Total Pageviews

Thursday, September 15, 2011

Karakter Pemimpin

Kata 'excellence' sering kita jumpai di banyak artikel dan di banyak talkshow atau seminar. Bahkan kata ini diadopsi oleh banyak perusahaan sebagai salah satu value organisasi mereka. Misalnya,  beberapa perusahaan di industri perbankan memiliki value "Service with Excellence" dan beberapa perusahaan di industri berbeda memampangkan value "Do with Excellence" di lingkungan kantornya. Di sisi lain, peran leader di suatu organisasi dituntut untuk menerapkan value tersebut. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk lebih mendalami isu terkait kepemimpinan dan excellence.

Membangun Diri
     Seorang leader tidak menuntut excellence, tetapi membangun excellence. Penulis memaknai kata  ini "being all you can be--menjadi diri sendiri yang sebenarnya" dalam mengerjakan hal-hal yang benar untuk organisasi. Untuk mencapai excellence tersebut ia harus menjadi orang pertama yang menunjukkan karakter seorang pemimpin. Ia melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai pemimpin. Bukan sebaliknya, leader menggunakan karakternya untuk menyelesaikan pekerjaan apapun yang harus dicapai organisasi. Ini bukanlah pilihan yang sebenarnya.
     Salah satu upaya untuk being all you can be adalah mengenal diri sendiri. Disadari bahwa upaya untuk mengenal diri sendiri bukanlah satu hal yang mudah. Namun juga diyakini bahwa mengenal diri bukanlah suatu hal yang  tidak dapat diungkapkan. Jika disederhanakan, upaya untuk mengenal diri bisa dimulai dengan menanyakan diri  sendiri satu pertanyaan: Apa yang membuat anda bahagia? (Topik ini akan dibahas lebih mendalam pada tulisan berikutnya)

Managers vs Leaders
     Seorang manager tidak berarti seorang leader. Leader bukanlah posisi atau jabatan, seperti yang dikatakan oleh Warren Bennis: "Managers are people who do things right, while leaders are people who do the right thing." Tidak semua hal yang dilakukan adalah benar dan bermanfaat buat organisasi dan masyarakat untuk jangka waktu tertentu, meskipun hal-hal tersebut dilakukan dengan benar. Pada kondisi ini, nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya adalah pemimpin (silahkan baca tulisan saya sebelumnya) mengalami pengikisan secara terus-menerus hingga ke suatu kondisi dimana manusia tersebut kehilangan orientasi dan cita-cita.  Akan berbeda kondisinya jika mereka memahami hal-hal penting dan benar untuk dilakukan. Pada kondisi ini karakter yang diperlukan (baca: trait) untuk membangun 'excellence' akan mereka munculkan. Jadi, jelas bahwa leadership is about a choice (Covey, 2005). Dan pilihan itu selalu tersedia sepanjang waktu dan di manapun.

     Di dalam aktivitas kesehariannya di organisasi atau perusahaan, seorang leader senantiasa dihadapkan  dengan banyak pilihan terkait upaya untuk mencapai sasaran organisasi. Ketika menentukan pilihannya, penting baginya untuk memahami apa sasaran tersebut, bagaimana proses sasaran tersebut dibuat, seberapa dalam keterlibatannya di dalam proses tersebut, dan seterusnya. Setelah ia mendapatkan kejelasan tentang sasaran tersebut, proses pembelajaran dan perencanaan untuk tindakan dibuat. Proses pertama  atau terpenting adalah leader seharusnya menjadi orang pertama yang menunjukkan karakter membangun excellence.

 Karakter Berubah
     Karakter berkembang sepanjang waktu. Banyak orang berpendapat bahwa banyak karakter kita terbentuk ketika kita masih kecil. Tapi, siapa yang mengetahui persisnya seberapa banyak atau kapan karakter tersebut berkembang? Atau bagaimana jika kita katakan saja bahwa karakter tidak berubah dengan cepat?
     Prilaku yang dapat diobservasi adalah suatu indikasi dari karakter seseorang. Prilaku ini bisa bersifat kuat atau lemah, baik atau buruk. Seseorang yang memiliki karakter yang kuat menunjukkan dorongan, energi, tujuan, disiplin diri, keinginan kuat, dan keberanian. Ia mampu melihat apa yang ia inginkan dan kemudian mengejar untuk mencapai keinginan tersebut. Prilaku (baca: trait) tersebut menarik perhatian orang lain (follower). Di sisi lain, seseorang yang memiliki karakter yang lemah juga memiliki trait tersebut, namun ia tidak menunjukkannya sesering orang yang memiliki karakter kuat.

Paradoks
    Orang yang kuat bisa menjadi orang yang baik atau jahat. Hitler, pemimpin NAZI, misalnya, adalah orang yang kuat dengan karakter yang buruk. Ia adalah salah satu manusia cerdas yang memilih untuk menjadi leader dengan jutaan follower. Sebaliknya, Gandhi adalah contoh leader di era modern. Jutaan followernya mengaguminya karena ia memiliki karakter yang baik. Secara politik, Hitler adalah orang kuat sementara Gandhi tidak sekuat Hitler. Namun yang membedakan keduanya adalah karakter mereka. 
     Keduanya ingin mencapai 'excellence' dengan cara pandang masing-masing. Namun, seperti telah dijelaskan di atas bahwa salah satu upaya untuk being all you can be adalah mengenal diri. Nyatanya konsep tentang diri menjadi penyebab kedua tokoh tersebut menyandang karakter berbeda. 

Kesimpulan
Membangun excellence atau being all you can be adalah cara pandang seseorang yang memilih untuk menjadi leader. Upaya membangun excellence dimulai dari mengenal diri secara menyeluruh dan mendalam sehingga mendapat perhatian dari orang lain (follower) untuk wilayah dan waktu tak terbatas. Untuk membangun excellence di organisasi, seorang leader melibatkan diri dalam proses-proses bisnis yang terkait, termasuk didalamnya adalah pengambilan keputusan. 

Bagaimana menurut anda?

No comments:

Post a Comment