Total Pageviews

Wednesday, October 26, 2011

Becoming a Knowledge Worker (Day One - Part VI)

Untuk terus mampu memenuhi kebutuhan pelanggannya saat ini dan yang akan datang, setiap orangisasi dituntut untuk mampu memaksimalkan intellectual asset yang ada, jika mereka tidak mau pelanggannya beralih ke kompetitor lain. Tuntutan tersebut semakin kuat bersamaan dengan munculnya pergeseran seismik global seperti yang dijelaskan oleh Covey (2004) dalam tujuh pergeseran seismik global sebagai berikut: 

  • Globalisasi pasar dan teknologi
  • Munculnya keterhubungan universal
  • Demokratisasi informasi/harapan
  • Peningkatan kompeteisi secara eksponensial
  • Pergeseran penciptaan kekayaan dari modal keuangan ke modal intelektual dan sosial
  • Tenaga kerja bebas
  • Perubahan terus-menerus
     Organisasi harus mendapatkan cara-cara baru untuk bisa memenangkan kompetisi. Setiap hari teknologi baru muncul dan merubah pasar. Pelanggan mempunyai lebih banyak alternatif dan pilihan. Mereka juga menjadi sangat selektif dalam membuat keputusan. Misalnya, ada sekitar 10.000 spot iklan untuk televisi di Indonesia setiap hari. Ini setara dengan 24 spot iklan setiap satu jam. Jumlah spot iklan tersebut akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah stasiun televisi baru. Penambahan spot iklan ini tentunya berdampak pada daftar pilihan dan alternatif bagi setiap orang secara individu dan sekelompok orang secara organisasi untuk mengambil keputusan. Namun, apakah keputusan tersebut menjamin suatu organisasi mendapatkan value yang ditetapkan?

    Orientasi terhadap peningkatan value beralih pada pemanfaatan intellectual capital yang ada. Pemanfaatan knowledge worker yang dimiliki, organisasi mendapatkan energi segar untuk terus bisa beradaptasi dengan perubahan yang terus-menerus. Knowledge worker menjadi aset yang sangat berharga untuk terus bisa dipertahankan. Di sisi lain, seorang knowledge worker juga menyadari bahwa dirinya juga dapat bernilai lebih di luar organisasi yang saat ini dia bekerja. 

     Pada konteks efisiensi, sebuah organisasi juga dapat menggunakan teknologi dan pemanfaatan pengetahuan untuk mendapatkan value yang lebih besar dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit seperti dijelaskan pada seri gambar di bawah. Gambar ini memetakan ekonomi dalam empat aspek, yaitu buruh (tenaga kerja), tanah, modal, dan value. Perubahan pada masing-masing aspek tersebut dilihat dalam era-era berbeda (era pertanian, era industri, dan era pengetahuan) sebagai berikut:

Pada era pertanian, pemanfaatan tanah atau lahan pertanian mendominasi penciptaan value. Konsekuensi logis saat itu adalah dibutuhkannya jumlah pekerja yang banyak pula untuk menggarap lahan tadi. Karena lahan sebagai pusat produksi, modal untuk meningkatkan ekonomi saat itu pun sangat kecil. Praktek-praktek di era ini masih dijumpai di beberapa negara yang sedang berkembang. Is it Indonesia?



Di era industri, pemanfaatan lahan untuk menghasilkan value berkurang hampir 50%. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan pun juga berkurang, meskipun tidak sebesar pengurangan kebutuhan lahan. Peningkatan yang hampir dua kali lipat dari value yang diperoleh pada era pertanian juga terjadi dengan dukungan modal yang jauh lebih besar. Bisa dikatakan bahwa paradigma di era ini adalah peningkatan value membutuhkan modal besar. Praktek-praktek manajemen era ini masih banyak dijumpai di berbagai sektor bisnis, baik di hampir belahan dunia. Hal ini terjadi karena transisi dari era industri ke era pengetahuan membutuhkan cara pandang semua orang terhadap tidak hanya value tetapi juga budaya yang sudah mereka miliki.


Pada era pengetahuan, terjadi pengurangan yang sangat drastis terhadap komponen utama penghasil value dari era sebelumnya. Melalui penciptaan dan pemanfaatan pengetahuan, organisasi dapat menghasilkan value yang menurut Covey (2004) bukan dua kali lipat dari value sebelumnya, tetapi 50 kali lipat. Wow! Value ini dapat diperoleh jika pekerja yang ada mengganti peran mereka dari manual worker seperti pada era pertanian dan era industri menjadi knowledge worker.


Apakah anda sudah memegang peran sebagai knowledge worker?
















No comments:

Post a Comment