Setiap hari kita mendengar orang bertanya. Pekerja bertanya kepada leadernya tentang strategi yang tepat dan efektif untuk memasuki pasar yang semakin kompetitif. Bisa jadi untuk hal terkait tadi, leader bertanya kepada pekerjanya bilamana suatu proyek dapat dikerjakan tepat waktu. Di lingkup team, seorang pekerja bertanya kepada rekannya bilamana rekan tersebut dapat berbagi pengetahuan tentang bagaimana melakukan presentasi di depan klien yang demanding. Banyak sekali contoh serupa bisa ditemukan tidak hanya di pekerjaan sehari-hari tetapi juga di tempat perbelanjaan, di rumah, dan sebagainya. Tapi, apakah anda tahu mengapa kita bertanya? Bagaimana sih bertanya yang benar itu?
Kapan aktivitas bertanya dimulai?
Adalah sifat manusia untuk bertanya. Aktivitas ini bahkan sudah dimulai sejak masa kecil, kemudian berlangsung hingga saat ini dan bahkan hingga detik-detik terakhir dalam hidup nanti. Coba bayangkan kehidupan tanpa pertanyaan? Kesalahpahaman akan terjadi di mana-mana. Bukan begitu?
Mengapa kita bertanya?
Pada dasarnya, aktivitas bertanya dilakukan dalam dua kondisi, yaitu ketika ada sesuatu yang perlu dan penting diketahui dan sesuatu yang sudah diketahui. Wajarkah jika ada sesuatu yang sudah diketahui tapi masih perlu bertanya dan dipertanyakan? Tidaklah cukup jika pertanyaan yang diajukan semata-mata untuk bertanya. Bukan begitu? Pertanyaan membutuhkan jawaban agar keingintahuan terpenuhi, ya gak? Pertanyaan juga membutuhkan alasan. OK? Singkatnya, pertanyaan merefleksikan bagaimana cara kita menjalani hidup dan keinginan memahami sesuatu lebih dalam lagi. OK?
Bagaimana bertanya?
Di banyak aspek kehidupan, ada beberapa jenis pertanyaan yang digunakan ketika kita bertanya. Namun, mungkin tidak semua dari kita tahu jenis pertanyaan apa yang digunakan saat itu? Tul gak? Ketika kita masih kecil, pertanyaan kita tidak terstruktur. Tapi ketika sudah dewasa, kita perlu memahami esensi dan dampaknya di dalam komunikasi sehari-hari dengan orang lain. Jadi, kita harus tahu apakah pertanyaan itu. Kita juga harus tahu bagaimana memformulasikan pertanyaan tersebut.
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa setiap pertanyaan membutuhkan jawaban. Ketika kita bertanya, seharusnya kita merasa lapar akan jawaban untuk mengenyangkan rasa lapar kita. Rasa lapar baru hilang jika pemahaman didapatkan. Menurut Socrates pemahaman sudah ada di dalam setiap orang. Untuk mendapatkannya harus ada upaya. Nah, pertanyaan adalah alat untuk mendapatkan pemahaman tersebut.
Bagaimana memformulasikan pertanyaan?
Kebenaran dan ketepatan suatu jawaban tergantung pada kekuatan dan kebenaran dari pertanyaan yang diajukan. Respon yang kurang tepat juga berasal dari pertanyaan yang tidak terstruktur. Untuk itu, karakter dari pertanyaan penting dievaluasi. Memformulasikan pertanyaan dengan cara yang tepat akan mendapatkan jawaban yang tepat. Sederhananya ada dua kategori pertanyaan: informasi dan analitikal.
Pertanyaan yang termasuk kategori informasi adalah pertanyaan yang diawali dengan kata tanya "Siapa," "dimana," "kapan," dan "apa." Contohnya, "Apa tujuan dari program ini?" "Siapa yang bertanggungjawab atas suksesnya program ini?" Sangat sederhana dan mudah, bukan? Nah, kedua pertanyaan ini memerlukan jawaban informasi faktual, bukan analitikal. Jadi, salah satu dari jawaban yang mungkin adalah "Tujuan program ini adalah melaporkan hasil evaluasi kinerja di...." Dan salah satu jawaban yang mungkin untuk pertanyaan kedua adalah "Team leader operasional dan...."
Kategori pertanyaan analitikal diawali dengan kata tanya "bagaimana" dan "mengapa." Pertanyaan dengan kategori ini membutuhkan jawaban dengan tingkat berpikir yang lebih tinggi dan pemahaman lebih mendalam tentang objek pertanyaan. Misal, "Bagaimana meningkatkan produktivitas kinerja karyawan di perusahaan ini?" Atau "Mengapa produktivitas kinerja karyawan cenderung menurun tiap bulannya?"
Langkah selanjutnya adalah mengetahui bagaimana membuat prioritas dalam kedua kategori tersebut. Salah satu cara yang baik untuk menerapkannya adalah dengan menggunakan konsep Bloom Taxonomy dimana tingkat pertanyaan disusun dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Konsep ini memperkenalkan tingkatan bertanya mulai dari Mengingat, Paham, Aplikasi, Analisa, Evaluasi, dan Mencipta.
Konsep Bloom Taxonomy menyediakan bagaimana kata tanya yang sudah dijelaskan di atas dapat diaplikasikan dalam tiap-tiap taksonomi (baca: ranah).
Ikuti diskusi lanjutannya pada tulisan berikutnya.
No comments:
Post a Comment